NASA Akan Gunakan Helikopter Tanpa Awak untuk Jelajahi Titan Bulan Terbentuk Akibat Tabrakan Bumi dengan Planet Theia Lubang Hitam Ultramasif Cegah Pembentukan Bintang di Cluster Galaksi RX J1532 Pakaian Astronot ini Mampu Lindungi Astronot dari Efek Gravitasi Mikro Luar Angkasa Galaksi z8_GND_5296 Pecahkan Rekor Sebagai Galaksi Terjauh dan Tertua di Alam Semesta Begini Cara NASA Berkomunikasi dan Mengendalikan Robot Curiosity di Mars

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Monday, June 23, 2014

Astronom Temukan Pulau Aneh di Titan

Foto laut Ligeia Mare Titan pada 26 April 2007 oleh wahana Cassini. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA/JPL-Caltech/ASI/Cornell
Astronom menemukan sebuah pulau "aneh" dan "misterius" yang muncul di tengah laut kedua terbesar di Titan, Ligeia Mare. Oleh para astronom pulau aneh ini disebut dengan Magic Island. Kenapa pulau ini di sebut aneh? Setelah para ilmuwan membandingkan tiga foto laut Ligeia Mare, ilmuwan terkejut dengan kemunculan sebuah pulau. Pulau ini pada foto yang lain diketahui muncul kemudian menghilang lagi.

Dilaporkan dalam jurnal Nature pada 22 Juni lalu, astronom mengungkapkan bahwa pengamatan yang mereka lakukan adalah pengamatan pertama yang dilakukan untuk mengetahui adanya proses geologi yang terjadi di belahan utara Titan. Penemuan ini memberitahu pada kita bahwa cairan di belahan utara Titan tidak stagnan / tetap, tapi berubah-ubah," kata Jason Hofgartner seorang peneliti dari Cornell University selaku penulis utama dari jurnal ini. "Kami tidak tahu persis apa yang menyebabkan pulau ajaib ini muncul, tapi kami ingin mempelajarinya lebih lanjut," tambah Hofgartner.

Bulan terbesar Saturnus ini telah lama diketahui memiliki danau dan laut. Titan mempunyai atmosfer tebal yang sebagian besar terdiri dari nitrogen dan metana. Danau dan laut Titan bukan berisi air tapi berisi metana dan etana cair. Dengan menggunakan beberapa foto Titan yang diambil oleh wahana Cassini, astronom membandingkan perubahan laut dan daratan Titan dari waktu ke waktu. Pada foto yang diambil pada  26 April 2007, memperlihatkan laut Titan yang tenang tanpa fitur apapun. Pada saat itu belahan utara Titan, tepat dimana laut Ligeia Mare ini berada sedang berada dalam musim peralihan dari musin semi ke musim panas. Kemudian pada 10 Juli 2013, foto Cassini memperlihatkan adanya sebuah fitur mirip pulau yang muncul di tengah laut Ligeia Mare seperti yang bisa kita lihat di bawah ini. Kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh hembusan angin dari belahan utara Titan yang membentuk gelombang di laut Ligeia Mare.
Foto laut Ligeia Mare Titan pada 26 April 2007. Pulau misterius belum muncul. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA/JPL-Caltech/ASI/Cornell
Foto laut Ligeia Mare Titan pada 10 Juli 2013. Pulau misterius muncul (dilingkari merah). Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA/JPL-Caltech/ASI/Cornell
Foto laut Ligeia Mare Titan pada 26 Juli 2013. Pulau misterius hilang lagi. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA/JPL-Caltech/ASI/Cornell
Anehnya pada tanggal 26 Juli 2013, foto Cassini memperlihatkan bahwa pulau misterius itu sudah menghilang. Astronom begitu terkejut mengapa itu terjadi begitu cepat hanya dalam waktu 16 hari saja. Astronom menduga bahwa ada proses tertentu yang menyebabakn terjadinya hal ini seperti angin, hujan, dan efek pasang yang mempengaruhi metana dan etana di laut Titan. Astronom akan terus mengamati perubahan Titan. (PHS, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Saturday, June 21, 2014

Triton, Bulan Terbesar Neptunus yang Super Dingin

Foto Triton yang diambil oleh wahana Voyager 2 pada tahun 1989. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA/JPL/USGS
Triton merupakan bulan / satelit alam yang paling besar dari total 13 bulan yang dimiliki Neptunus. Triton sekaligus menjadi satu-satunya bulan di tata surya yang memiliki arah orbit yang berlawanan dengan arah rotasi planetnya atau yang biasa disebut retrograde. Sekilas Triton ini sangat mirip dengan Pluto sehingga astronom berpendapat bahwa Triton dan Pluto mempunyai asal usul yang sama. Hal itu diperkuat dengan pendapat bahwa bulan sebuah planet tidak mungkin terbentuk jika arah orbitnya berlawanan arah. Sama seperti bulan kita, Triton juga terkunci oleh gravitasi Neptunus sehingga berhenti berotasi. Namun karena kemiringan orbit yang tidak biasa, maka daerah kutub bergantian menghadap Matahari.
Foto permukaan Triton. Tampak fitur kerak es yang merupakan hasil kondensasi Nitrogen akibat suhu yang terlalu dingin. Bentuk es kasar sangat terlihat yang diperkirakan ini terbentuk sebagai akibat dari gumpalan es yang dialiri arus lava dingin. Tinggi dari gunung es ini bervariasi hingga beberapa ratus meter. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA/JPL/Universities Space Research Association/Lunar & Planetary Institute
Triton memiliki diameter sekira 2.700 km. Besarnya 22 persen lebih kecil dari bulan Bumi kita. Berdasarkan foto yang diambil oleh wahana Voyager 2 pada tahun 1989, terlihat bahwa permukaan Triton  terdiri dari dataran halus, sedikit kawah, dan banyak kerak es dan lubang-lubang bulat yang terbentuk oleh aktivitas aliran lava dingin.

Atmosfer Triton sangat tipis yang kebanyakan terdiri dari Nitrogen dan sedikit Metana. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh aktivitas gunung berapi dan pengaruh musiman dari Matahari. Ada 3 bulan Neptunus yang memiliki aktivitas vulkanik aktif saat ini yakni Triton, Io, dan Venus. Walaupun memiliki gunung berapi, ternyata suhu di permukaan Triton sangat dingin yakni sekira -235 derajat Celcius.

Nama Triton diambil dari nama salah satu dewa laut Yunani. Triton ditemukan pada 10 Oktober 1846 oleh astronom Inggris William Lassell dan penemuan itu hanya selang 17 hari setelah penemuan planet Neptunus oleh astronom Jerman, Johann Gottfried Galle dan Heinrich Louis d'Arrest. (NS, NSC, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Friday, June 20, 2014

ESA: Medan Magnet Bumi Mengalami Perubahan

Perubahan medan manet Bumi berdasarkan data Swarm. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: esa
Menggunakan data yang didapat dari wahana Swarm, ilmuwan ESA (European Space Agency) menyimpulkan bahwa medan magnet Bumi telah mengalami perubahan. Dari data yang didapat selama 6 bulan itu mereka mendapati bahwa di belahan Bumi sebelah barat terjadi penurunan kekuatan medan magnet. Sedangkan di daerah Selatan Samudera Hinda, medan magnet mengalami penguatan.
Ilustrasi tiga wahana Swarm sedang mengorbit Bumi. Image credit: esa
Data yang diperoleh merupakan hasil pengamatan tiga wahana Swarm milik ESA yang diluncurkan pada November 2013 lalu yang menganalisa perubahan medan magnet Bumi. Saat ini yang baru dianalisa adalah peran inti Bumi dalam mempengaruhi perubahan medan magnet dan dalam beberapa bulan ke depan, ilmuwan ESA juga akan mengamati apakah perubahan medan magnet Bumi ini juga dipengaruhi oleh faktor lainnya seperti mantel Bumi, kerak, lautan, ionosfer, dan magnetosfer.

Seperti yang diketahui bahwa medan magnet Bumi berperan penting bagi kelangsungan kehidupan di Bumi, sebab ia melindungi Bumi dari radiasi kosmik dan serbuan partikel bermuatan dari Matahari yang datang melalui angin surya yang jika menembus Bumi, maka kehidupan akan musnah akibat radiasi.

Informasi yang didapat ilmuwan ini akan digunakan untuk menjawab pertanyaan, apa yang menyebabkan medan magnet Bumi ini melemah. (esa, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Kosmonot Rusia Sukses Lakukan Spacewalking untuk Perbaikan ISS

Kosmonot Oleg Artemyev saat melakukan spacewalking. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA
Dua kosmonot Rusia sukses melakukan spacewalking (bekerja di luar ISS) setelah menghabiskan waktu sekitar 7 jam untuk melakukan beberapa perbaikan dan upgrade peralatan ISS. Kosmonot Alexander Skvortsov dan Oleg Artemyev menceritakan bahwa pengalaman spacewalking adalah pengalaman yang sangat menarik sekaligus mendebarkan. Sebab mereka harus melayang di luar ISS pada ketinggian sekitar 400 km di atas permukaan Bumi dan bagi mereka spacewalking kali ini adalah spacewalking mereka yang pertama kalinya.

Kedua kosmonot itu ditugaskan untuk mengganti antena komunikasi dengan antena yang baru dan memperbaiki beberapa komponen elektronik dan kelistrikan lainnya. Walaupun sekilas tampak mudah, spacewalking ternyata sangat sulit untuk dilakukan. Spacewalking lebih mirip seperti panjat tebing dan angkat besi, karena selain kita harus menahan diri dengan cara bergantung, mereka juga membawa beberapa peralatan yang rata-rata berukuran besar. Kosmonot Skvortsov dan Artemyev mengatakan bahwa mereka sempat mengalami kesulitan ketika akan melepas salah satu baut pada sebuah perangkat dan ternyata baut itu sangat sulit untuk dilepas. Itu membutuhkan tenaga ekstra dan sangat menjengkelkan.

Kedua kosmonot telah berada di ISS sejak 27 Maret 2014 dalam misi 5,5 bulan di ISS. (SP, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Foto Keindahan Planet Mars oleh Wahana Rosetta

Foto planet Mars beresolusi 5 km / piksel yang diambil oleh wahana Rosetta. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: esa
Foto di atas adalah foto planet Mars yang diambil oleh wahana Rosetta pada 24 Februari 2007 pada jarak 240.000 km dalam perjalanannya menuju komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Foto di atas merupakan foto dalam warna yang sebenarnya, sama seperti jika kita melihatnya langsung dengan mata kita sendiri. (esa, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

NASA Akan Gunakan Helikopter Tanpa Awak untuk Jelajahi Titan

Ilustrasi helikopter NASA di Titan. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: gzm
NASA mempunyai ide menarik untuk mengeksplorasi salah satu bulan Saturnus, Titan. Titan dipilih karena ia merupakan satu-satunya tempat mirip Bumi di tata surya. Selain karena mempunyai atmosfer tebal dan samudera, Titan juga dianggap sebagai tempat yang kaya akan zat kimia organik. NASA berencana menggunakan helikopter tanpa awak untuk menjelajahi permukaan Titan. Nantinya helikopter itu akan perlahan dibawa turun oleh balon udara hingga ketinggian tertentu untuk kemudian terbang. Berat helikopter ini tidak lebih dari 10 kg. Nantinya helikopter ini akan memetakan permukaan, mengambil sampel materi padat dan cair, dan sebagainya.

Pada seminar yang diadakan oleh NASA, ilmuwan Larry Matthies dan timnya menulis makalah yang berjudul TAD (Titan Aerial Daughtercraft) for Surface Studies from a Lander or Ballon. Kemungkinan jika rencana ini benar-benar direalisasikan, maka NASA akan bekerjasama dengan AeroVironment yaitu sebuah perusahaan swasta produsen pesawat tanpa awak untuk bersama-sama membuat model helikopter yang cocok untuk lingkungan Titan. Konsepnya helikopter itu nantinya terdiri dari empat baling-baling dan bisa kembali menujut ke wahana yang berfungsi sebagai pangkalan di Titan untuk mengantarkan sampel yang kemudian dianalisa secara kimiawi menggunakan robot. Setelah itu helikopter akan melakukan isi ulang baterai secara otomatis untuk kemudian bisa terbang lagi untuk misi berikutnya. Matthies mengatakan bahwa misi ini tidak memerlukan biaya besar, tidak seperti Curiosity. Kapan rencanan ini diwujudkan, kita tunggu saja. (PHS, GZM, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Thursday, June 19, 2014

VIDEO: Robot Laba-laba NASA Ahli Panjat Tebing

Robot Laba-laba NASA. Image credit: ieee.org
Untuk mewujudkan misi menjelajahi asteroid dan planet Mars, Tim JPL NASA membuat robot yang sangat canggih yakni robot Spiderman. Mengapa disebut robot spiderman? karena robot ini bisa memanjat tebing batu seperti Spiderman. Robot ini sendiri sebenarnya dinamai JPL's Rock Climbing Robot yang merupakan versi upgrade dari robot LEMUR IIB yang lebih dulu dibuat. Uniknya robot ini bisa memanjat dalam posisi vertikal dan horizontal.
Bagian-bagian dari kaki robot Laba-laba NASA. Image credit: engineering.com
Posisi vertikal berarti robot ini bisa memanjat dari bawah ke atas, atau horizontal dengan merayap menggantung di bawah batuan seperti Spiderman. Robot ini bisa melawan gaya gravitasi bahkan mampu membawa beban hingga 15 kg saat memanjat. Rahasia dari robot Spiderman ini adalah ia mempunyai semacam kail / cakar kecil pada kaki-kaki kecilnya yang digunakan untuk mencengkeram permukaan batuan. Dengan beberapa kaki yang dimilikinya, robot ini benar-benar mirip Laba-laba. Robot ini akan digunakan oleh NASA untuk misi ke asteroid dan Mars. Simak video aksi robot Laba-laba NASA di bawah ini:

(Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Friday, June 13, 2014

Astronom: Ada 100 Juta Planet di Bima Sakti yang Bisa Menopang Kehidupan

Bumi. Image credit: Tryfonov / Fotolia
Astronom memperkirakan di dalam galaksi Bima Sakti ada sekira 100 juta planet yang dapat mendukung kehidupan dalam bentuk kompleks. Bentuk kompleks yang dimaksud adalah bentuk kehidupan di atas mikroba. Kesimpulan ini didapat setelah beberapa astronom menggunakan teknik perhitungan baru untuk menganalisa planet-planet yang mengorbit bintang-bintang di galaksi Bima Sakti. "Studi ini tidak ditujukan untuk menunjukkan adanya kehidupan yang kompleks di planet-planet tersebut namun menyatakan bahwa ada banyak planet yang dapat mendukung kehidupan," ungkap Alberto Fairen dari Cornell Research Associate.

Organisme yang lebih kompleks atau lebih besar dari mikroba diperkirakan bisa ada di planet-planet tersebut.  Dengan mempelajari kepadatan, suhu, substrat (cairan, gas, material), struktur kimia dan jarak dari bintangnya, ilmuwan mendapati ada sekitar 1 sampai 2 persen planet atau sekira 100 juta planet di Bima Sakti yang sangat dimungkinkan mendukung kehidupan kompleks.

Tapi sayangnya jarak planet-planet itu sangat jauh dari Bumi. Salah satu sistem tata surya yang paling dimungkinkan adanya kehidupan yakni sistem Gliese 581 yang terdiri dari dua planet, berjarak 20 tahun cahaya. Mengingat luasnya galaksi Bima Sakti itu sendiri, belum lagi kemampuan manusia yang masih belum bisa menempuh perjalanan dengan kecepatan cahaya, pertemuan manusia dengan makhluk lain seperti alien sangat sulit untuk dilakukan, kecuali mereka yang mendatangi kita. (SCD, Adi Saputro/ www.astronomi.us)


Loading
Posisi Wahana New Horizon Menuju Pluto