Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Showing posts with label Bumi. Show all posts
Showing posts with label Bumi. Show all posts

Tuesday, September 24, 2013

Mengenal Sabuk Radiasi Van Allen yang Berbahaya

Sabuk radiasi Van Allen. Image credit: wikipedia
Sabuk Van Allen, juga disebut sebagai sabuk radiasi Van Allen (Van Allen radiation belt), merupakan dua sabuk partikel bermuatan di sekitar planet bumi yang ditahan di tempatnya oleh medan magnet bumi. Sabuk Van Allen eksis karena terdapat “blind spot” di medan magnet bumi yang disebabkan oleh kompresi dan peregangan dari angin matahari. Sabuk radiasi Van Allen berada pada ketinggian 1000 sampai 60.000 kilometer di atas permukaan Bumi.

Medan magnet bumi berfungsi sebagai cermin magnetik yang memantulkan partikel bermuatan bolak-balik sepanjang garis gaya yang merentang antara Kutub Magnetik Utara dan Selatan. Sabun Van Allen berhubungan dengan aurora borealis dan aurora australis atau semburat partikel bermuatan yang muncul saat sabuk Van Allen bersinggungan dengan bagian atas atmosfer.

Sabuk Van Allen cukup berbahaya bagi satelit dan stasiun ruang angkasa yang mengorbit. Sebisa mungkin mereka harus menghindari kontak dengan sabuk ini karena partikel bermuatan bisa menyebabkan kerusakan pada instrumen yang ada.

Pada akhir abad 19 dan awal abad ke-20, beberapa ilmuwan Carl Stormer, Kristian Birkeland, dan Nicholas Christofilos berspekulasi tentang kemungkinan terdapatnya sabuk partikel bermuatan di sekitar Bumi.

Namun hal ini tetap menjadi spekulasi sampai tahun 1958 ketika keberadaannya dikonfirmasi oleh beberapa satelit Amerika awal, Explorer 1 dan Explorer 3.

Proyek ini dipimpin oleh Dr. James Van Allen dari University of Iowa, dimana sabuk bermuatan ini lantas diberi nama sesuai dengan namanya.

Explorer 1, pesawat ruang angkasa dengan berat 14 kg, diluncurkan dalam rangka International Geophysical Year, dan segera mengirimkan data ilmiah setelah berada diluar atmosfer bumi.

Sabuk Van Allen pada awalnya ditemukan saat peralatan deteksi sinar kosmik pada satelit mati sementara akibat adanya radiasi lokal. Terdapat dua sabuk Van Allen, yaitu sabuk Van Allen dalam dan sabuk Van Allen luar.

Sabuk Van Allen dalam membentang 0,1-1,5 jari-jari bumi dari permukaan, terdiri dari proton sangat bermuatan serta mampu menembus sampai satu milimeter timbal dan menyebabkan kerusakan pada peralatan ruang angkasa serta membahayakan astronot. Sabuk Van Allen luar terletak antara 3 hingga 10 jari-jari bumi dari permukaan, dan terutama terdiri dari elektron enerjik.

Sumber partikel energik bervariasi tergantung pada jenis sabuk. Sabuk Van Allen dalam terdiri dari produk peluruhan dari benturan sinar kosmik dengan atmosfer atas, sedangkan sabuk Van Allen luar diproduksi dari influks partikel bermuatan dari badai geomagnetik.

Baru-baru ini astronom berhasil menemukan sabuk radiasi ketiga. Sabuk yang masih bersifat sementara itu muncul pada September 2012 dan bertahan selama satu bulan sebelum lenyap akibat gelombang kejut yang dipancarkan badai matahari.

Sabuk radiasi ketiga masih menyimpan banyak misteri. Sabuk / cincin radiasi ketiga ini bertahan sekitar satu bulan dan berada diantara sabuk radiasi dalam dan sabuk radiasi luar. Diduga sabuk ketiga ini dibentuk oleh partikel yang sangat enerjik yang dikenal sebagai partikel ultra-relativistic electrons. Saking enerjiknya partikel ini sampai-sampai bergerak mendekati kecepatan cahaya. Para astronom berharap dapat mengetahui seberapa sering sabuk ketiga muncul dan mempelajari perilaku ketiga sabuk radiasi Bumi.

"Sabuk radiasi dapat merusak komunikasi satelit dan GPS (global positioning system) serta meningkatkan dosis radiasi terhadap para astronot di antariksa," kata John Grunsfeld, peneliti NASA. (AMZ, WKP, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Sunday, September 22, 2013

Berapa Lama Lagi Bumi Bisa Mendukung Kehidupan ?? Ini Kata Ilmuwan

Planet Bumi yang indah. Image credit: bbci
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dengan basic ilmu pengetahuan yang dimiliki, mereka menyimpulkan bahwa Bumi masih dapat mendukung kehidupan untuk setidaknya 1,75 miliar tahun dari sekarang dengan syarat tidak ada kejadian-kejadian yang mengancam kehidupan itu sendiri seperti perang dunia, perang nuklir maupun intervensi dari obyek lain dari luar Bumi seperi asteroid, komet atau apapun yang bisa mengancam berlangsungnya kehidupan di Bumi. Hal itu disampaikan oleh tim ilmuwan yang dipimpin oleh, Andrew Rushby dari University of East Anglia, Inggris.

Berdasarkan beberapa perkiraan tantang bagaimana kehidupan Bumi itu berakhir seperti yang diungkapkan oleh ilmuwan, dalam waktu 1,75 - 3,25 miliar tahun dari sekarang, Bumi akan berada dalam zona panas. Itu terjadi seiring dengan bertambah besarnya ukuran Matahari yang semakin tua dan membuat Bumi berjarak lebih dekat dengan Matahari. Zona panas tersebut akan membuat materi utama pendukung kehidupan seperti air akan menguap dan yang membuat peluang berlangsungnya kehidupan semakin tipis. Oleh sebab itu saat ini ilmuwan dan astronom fokus untuk mencari planet-planet terdekat dengan Bumi yang dimungkinkan bisa mendukung kehidupan. Sebagai solusi alternatif yang mudah dan cepat adalah planet Mars yang menurut para ilmuwan meskipun berada di sana akan terasa sangat sulit tapi bisa menjadi solusi paling cepat. Menurut mereka walaupun ketika itu Matahari sudah memasuki masa akhir dari kehidupannya dan menjadi bintang raksasa merah, posisi planet Mars masih berada dalam zona aman.

Secara matematis, ilmuwan menghitung bahwa secara keseluruhan Bumi bisa mendukung kehidupan dalam waktu 7,79 miliar tahun dan usianya saat ini sudah 4,5 miliar tahun. Sel sederhana mulai muncul di Bumi 4 miliar tahun lalu, diikuti oleh serangga dalam 400 juta tahun lalu, dinosaurus 300 juta tahun lalu, dan tanaman berbunga 130 juta tahun lalu. "Model manusia modern sudah ada dalam 200 ribu tahun lalu sehingga dibutuhkan waktu yang lama bagia kehidupan cerdas untuk berkembang," ucap Andrew Rushby.

Penelitian tentang hal ini dipublikasikan dalam jurnal astrobiologi bulan September 2013. (LS, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Wednesday, December 19, 2012

Ilmuwan Berhasil Temukan Dua Mineral Baru di Antartika

Evgeny Galuskin dan Irina Galuskin. Image credit: mindat.org
Ilmuwan berhasil menemukan dua mineral baru di kaldera Chegem Kaukasus Utara dekat gunung Elbrus Rusia. Mineral baru tersebut ditemukan oleh dua ilmuwan mineralogist yakni Evgeny Galuskin dan Irina Galuskin dari University of Silesia Polandia. Kedua mineral itu diberi nama Edgrewite dan Hydroxledgrewite dan nama tersebut diambil sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa Profesor Edward Grew dari University of Maine yang telah meneliti berbagai macam mineral langka seperti Boron dan Berilium. Edgrewite dan hydroxledgrewite ditemukan dalam bentuk kristal kecil

"Saya selalu menghargai kolaborasi internasional dalam dunia ilmu pengetahuan, , dan saya merasa sangat terhormat rekan-rekan di Eropa mengusulkan nama saya untuk mineral baru yang mereka temukan," ucap Profesor Grew.

Profesor Grew sendiri merupakan seorang mineralogist yang sangat terkenal dan terlibat dalam penemuan 13 mineral langka termasuk 6 mineral yang ditemukan di Antartika. (Phs, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Thursday, December 6, 2012

Satelit NASA Ambil Foto Seluruh Belahan Bumi Pada Malam Hari

Benua Amerika pada malam hari. Image credit: NASA
Benua Asia pada malam hari. Image credit: NASA
Benua Afrika, Eropa, dan Timur tengah pada malam hari. Image credit: NASA
Kurang lebih selama dua bulan satelit Suomi NPP mengumpulkan foto Bumi pada malam hari dan hal itu dimungkinkan dengan adanya instrumen Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS). VIIRS mampu menangkap dan mendeteksi cahaya dengan menggunakan filter untuk dapat mengambil cahaya dari lampu-lampu kota, aurora, api kebakaran hutan, pantulan sinar Bulan dan sebagainya. Namun pada beberapa foto yang ditampilkan, cahaya aurora dan api kebakaran hutan telah di filter sehingga tidak tampak dan penampakan hanya difokuskan pada lampu kota saja.

Satelit Suomi NPP merupakan satelit baru yang awalnya dikembangkan untuk kegiatan meteorologi untuk melihat awan di malam hari. Satelit ini terbukti mampu menghasilkan foto Bumi di malam hari dengan sangat baik dengan resolusi yang lebih tinggi.

VIIRS mampu membedakan mana cahaya kebakaran hutan, aurora, lampu kota dan sebagainya dengan mudah. Sensor cahayanya sangatlah peka. Satelit ini mengorbit Bumi dua kali dalam sehari pada ketinggian 824 km (612 mil) di atas permukaan Bumi. Dan dari luar angkasa pada malam hari Bumi tampak terlihat seperti Black Marble (marmer/ pualam hitam) yang indah. (UT, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Tuesday, December 4, 2012

Peneliti NASA Temukan Mikroba Kuno di Danau Antartika

Danau Vida di Antartika. Klik gambar untuk memperbesar. Image credit: nationalgeographic.com
Peneliti NASA baru-baru ini menemukan sekumpulan mikroba kuno yang mendiami sebuah danau di Antartika. Danau Vida di lembah McMurdo Antartika menjadi tempat penemuan mikroba kuno pada kedalaman 65 kaki. Danau tersebut merupakan salah satu tempat tergelap di Bumi yang tidak tertembus sinar Matahari dikarenakan permukaannya yang beku dan memiliki tingkat keasinan yang sangat tinggi yaitu 6 kali lebih asin dari air laut dan juga sangat dingin sehingga danau tersebut benar-benar ekstrim untuk mampu mendukung adanya kehidupan termasuk mikroba ini. Danau Vida juga dikenal sebagai tempat yang tidak memiliki oksigen dan memiliki oksida nitrous tertinggi di Bumi.

"Studi ini memberikan gambaran kepada kita ke salah satu ekosistem paling unik di Bumi," ucap Alison Murray, ahli ekologi mikroba dari Desert Research Institute (DRI). "Pengetahuan kita tentang proses geokimia dan mikroba dalam lingkungan es dalam dunia yang gelap khususnya pada suhu di bawah nol masih banyak yang belum diketahui sampai sekarang. Studi ini dapat memperluas pemahaman kita tentang jenis kehidupan yang dapat bertahan hidup dalam cryecosystem terisolasi dan bagaimana strategi yang berbeda bisa ada dalam lingkungan yang penuh tantangan seperti itu," tambahnya.

Dari analisis geokimia didapatkan hasil bahwa reaksi kimia antara air asin dan zat besi pada sedimen di danau tersebut menghasilkan oksida nitrous dan molekul hidrogen dan molekul hidrogen tersebut dapat memberikan energi pada mikroba kuno tersebut untuk tetap bertahan hidup. (NS, Adi Saputro/ www.astronomi.us)

Thursday, October 25, 2012

Kenapa Bentuk Orbit Bumi Mengelilingi Matahari itu Elips?

Pertanyaan:
Kenapa bentuk lintasan / orbit Bumi mengelilingi Matahari itu elips ya?

Jawaban:
Anda harus membedakan antara medan vektor gravitasi dengan lintasan objek di dalam medan gravitasi. Di tingkat SMP sudah diajarkan mengenai GLBB dan gerak parabola yang disebabkan oleh percepatan gravitasi di permukaan bumi yang dianggap konstan baik besar maupun arahnya (ke bawah/y negatif). Pada gerak jatuh bebas, lintasan objek berupa garis lurus, namun lajunya berubah secara beraturan dengan percepatan konstan, dalam hal ini sama dengan percepatan gravitasi. Sedangkan pada gerak parabolik, seperti lintasan peluru meriam, komponen kecepatan horizontalnya konstan, sedangkan komponen kecepatan vertikalnya selalu berkurang sebesar negatif g. Ini bukan berarti bahwa medan gravitasi berbentuk parabola, karena seperti disebutkan sebelumnya, g diasumsikan konstan dengan arah ke bawah / sumbu y negatif.
Dalam pelajaran di atas biasanya diambil beberapa asumsi sebagai berikut :
1. Permukaan tanah/ground dianggap lurus dan datar, terletak pada sumbu x dalam koordinat cartesius.
2. Sumbu y positif adalah arah ke atas, sumbu y negatif ke bawah, sumbu z diabaikan.
3. Besar dan arah percepatan gravitasi selalu konstan di semua tempat dalam koordinat, dengan arah ke bawah.
4. Gaya gesekan udara dapat diabaikan.
Konsekuensi dari asumsi di atas, lintasan objek akan berbentuk parabola. Pada titik baliknya, komponen kecepatan objek searah sumbu y sama dengan 0.

Dalam kasus orbit planet, beberapa asumsi di atas tidak berlaku, terutama asumsi ketiga. Berdasarkan hukum gravitasi universal oleh Newton, besarnya gaya gravitasi yang bekerja pada dua titik massa sebanding dengan massa masing-masing objek dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya. Arah gaya gravitasi yang bekerja pada kedua objek adalah menuju ke titik pusat massa sistem total. Dalam kasus tata surya, massa matahari mendominasi total massa tata surya, sehingga arah gaya gravitasi yang bekerja pada planet-planet cenderung menuju ke pusat massa matahari. Bisa disimpulkan bahwa medan gravitasi matahari berbentuk bola/spherical yang arahnya menuju pusat massa tata surya, dengan kuat medan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya dari pusat massa tata surya.
Jika lintasan orbit planet ditempatkan pada bidang xy dalam koordinat cartesius, maka arah dan besarnya percepatan gravitasi yang dialami oleh planet berubah-ubah tergantung posisinya relatif terhadap matahari. Dengan kalkulus dapat ditunjukkan bahwa medan gravitasi seperti itu akan menghasilkan lintasan berupa irisan kerucut, yang biasanya berbentuk elips atau hiperbola. http://en.wikipedia.org/wiki/Conic_section Lintasan parabola maupun lingkaran merupakan kasus khusus.
Jika anda menyukai program animasi komputer, anda bisa membuat simulasi orbit planet dengan percepatan gravitasi sesuai persamaan Newton. Tinggal masukkan posisi dan kecepatan awalnya, anda akan mendapatkan diagram lintasan orbitnya. Pada praktiknya, analisis gerakan objek dalam pengaruh gravitasi sangat sulit dilakukan jika jumlah objeknya lebih dari dua sekaligus. Oleh karena itu penyelesaiannya biasanya menggunakan metode brute force, yaitu menghitung gaya tarik gravitasi yang dikerjakan oleh masing-masing objek terhadap objek lainnya, kemudian menghitung perubahan kecepatan dan perubahan posisi pada tiap-tiap timeframe, sama dengan yang dilakukan oleh program animasi.
Jika anda tertarik untuk mempelajari lebih lanjut, silakan buka link di bawah ini.
http://en.wikipedia.org/wiki/Newton%27s_law_of_universal_gravitation
http://en.wikipedia.org/wiki/Orbital_equation
http://en.wikipedia.org/wiki/Elliptic_orbit
http://en.wikipedia.org/wiki/Vis-viva_equation

http://www.forumsains.com/astronomi-dan-kosmologi/gravitasi-elips/msg137466/?topicseen#new

Note:
*kami mengumpulkan pertanyaan dan jawaban astronomi dari beberapa forum di internet dan kami tidak menjamin serta melakukan evaluasi terhadap kebenaran dari jawaban pertanyaan tersebut.

Tuesday, August 28, 2012

Paleontolog Temukan Dua Jejak Kaki Dinosaurus di NASA

Jejak kaki Nodosaurus yang temukan di NASA’s Goddard Space Flight Center. Image credit: NASA/GSFC/Rebecca Roth
Nodosaurus. Image credit: universetoday.com
Paleontologis baru-baru ini berhasil menemukan jejak kaki Dinosaurus di NASA’s Goddard Space Flight Center di Maryland. Jejak kaki yang ditemukan ada dua yang diduga adalah ibu dan anak Dinosaurus.

Dari bentuk jejak kakinya, Paleontologis dari USGS Dr. Robert Weems mengungkapkan bahwa itu adalah jejak kaki dari Nodosaurus yang merupakan Dinosaurus pemakan tumbuhan atau herbivora. Jejak kaki tersebut akan dianalisa lebih lanjut oleh para ilmuwan. (UT, Adi Saputro/ astronomi.us)

Monday, August 13, 2012

Satelit Cuaca Rusia Ambil Foto Bumi Beresolusi 121 MP

Foto terbaru Bumi beresolusi 121 MP yang diambil oleh Russia's Electro-L satellite. Image credit: Roscosmos
Satelit Cuaca Rusia Russia's Electro-L satellite, berhasil mengambil foto Bumi dengan resolusi 121 megapiksel dari jarak 22 ribu mil di atas permukaan Bumi. Biasanya untuk mengambil foto besar semacam ini diperlukan beberapa instrumen  pencitraan yang kemudian mengambil foto Bumi dan akhirnya digabungkan. Namun badan antariksa Rusia, Roscosmos ingin melakukan sesuatu yang berbeda dengan mengambil foto Bumi sendirian. Saking besarnya resolusi gambar, setiap piksel pada foto tersebut mewakili setengah mil pada keadaan sebenarnya (di permukaan Bumi).

Setiap setengah jam, Russia's Electro-L satellite mengambil foto Bumi untuk mengetahui cuaca di berbagai tempat.

Dikutip astronomi.us dari redorbit.com, Senin (13/08/2012), Foto yang diambil tersebut merupakan kombinasi dari foto Bumi yang sebenarnya (terlihat), dengan gelombang inframerah, sehingga daerah yang memiliki banyak vegetasi (hutan) terlihat berwarna merah agak kehijauan.

Russia's Electro-L satellite sendiri diluncurkan pada Januari 2011 dan berada pada orbit geo-stasioner Bumi. (Adi Saputro/ astronomi.us)

Saturday, July 14, 2012

Ilmuwan: Air di Bumi Bukan Berasal dari Komet Tapi dari Asteroid

Ilustrasi asteroid menghantam Bumi. Image credit: NASA
Dari manakah sesungguhnya asal-usul air di Bumi?. Hal itu nampaknya masih belum bisa dijawab dengan jawaban yang pasti. Air di Bumi diyakini berasal dari sumber di luar Bumi. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa sumber air di Bumi bukan berasal dari komet yang kaya es tapi bantalan air di asteroid.

Dikutip astronomi.us dari universetoday.com, Sabtu (14/07/2012), Melihat rasio dari hidrogen sampai deuterium, dengan isotop hidrogen berat pada air yang beku, ilmuwan mendapatkan petunjuk baru. Komet dan asteroid yang letaknya makin menjauh dari Matahari, memiliki kandungan deuterium lebih tinggi daripada yang berada dekat Matahari. Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Conel Alexander dari Carnegie Institution for Science’s, membandingkan air yang berasal dari komet dan dari chondrite karbon. Apa yang mereka temukan menantang model yang ada saat ini tentang bagaimana tata surya terbentuk.

Bumi muda merupakan tempat yang panas dan kering yang mampu menguapkan air yang ada. Sinar ultraviolet dari Matahari muda memisahkan atom hidrogen dari molekul air, sehingga tidak terjadi hujan. Komet dan asteroid yang berasal dari luar orbit Jupiter atau mungkin di pinggir tata surya membawa air dan bahan organik lain ke Bumi. Jika hal ini benar, Alexander dan timnya akan menunjukkan bahwa es pada komet dan sisa es yang diawetkan pada chondrite karbon dalam bentuk tanah liat akan memiliki komposisi serupa.

Setelah mempelajari 85 chondrite karbon yang dibawa oleh Johnson Space Center dan Meteorite Working Group, mereka akan menunjukkan hasil penelitiannya bahwa sumber air di Bumi bukan berasal dari komet, melainkan dari asteroid sebab asteroid memiliki kandungan deuterium yang lebih tinggi daripada komet. Asteroid yang berasal dari sabuk asteroid di sekitar Mars dan Jupiter diyakini menghujani dan membawa air ke Bumi sehingga Bumi dikenal sebagai planet Basah.

"Penemuan kami ini menghasilkan pertanyaan baru dari mana asal-usul volatil di tata surya bagian dalam termasuk Bumi?," kata Alexander. "Mereka memiliki peranan penting dalam proses pembentukan dan evolusi orbit planet-planet dan objek-objek kecil di tata surya kita." tambahnya. (Adi Saputro/ astronomi.us)

Thursday, June 14, 2012

Tingkat Keasinan Berbagai Laut dan Samudera di Dunia

Peta tingkat keasinan dari laut dan samudera di Bumi. KLIK gambar untuk memperbesar. Image credit: NASA, Norman Kuring, Goddard Space Flight Center.
Seberapa asin air laut di Bumi? pertanyaan tersebut dijawab oleh instrumen Satelite de Aplicaciones Cientificas (SAC) yang mengumpulkan data dan gambar persebaran garam dan tingkat keasinan dari berbagai laut dan samudera di seluruh dunia.

Satelit yang diluncurkan pada 10 Juni 2011 lalu itu mendapatkan data bahwa samudera Atlantik lebih asin dari samudera Pasifik dan samudera Hindia. Hal itu juga menunjukkan bahwa sungai terpanjang di dunia (sungai Nil) membawa lebih banyak air tawar dari darat menuju laut. Dan di daerah tropis, curah hujan tinggi membuat air laut di khatulistiwa menjadi lebih segar. (space.com, Adi Saputro/ astronomi.us)

Tuesday, May 8, 2012

Jumlah Air di Bumi Tidak Sebanyak yang Kita Kira

Perumpamaan jika semua air di Bumi disatukan menjadi seperti Bola hanya memiliki diameter 860 mil. Image credit: Jack Cook/WHOI/USGS
Jika kita merasa bahwa jumlah air di Bumi itu sangat banyak dan melimpah, tampaknya Anda harus berpikir ulang. Jika semua air di Bumi dikumpulkan dan dibuat menjadi satu bola raksasa, maka ia akan menjadi sebesar apa? USGS (United States Geological Survey) akan menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut USGS, jika semua air di Bumi disatukan dan dibentuk menjadi seperti Bola, maka akan menjadi Bola dengan ukuran diameter 860 mil (1.385 km), dan itu kurang lebih hanya sepertiga dari ukuran Bulan. Bahkan jika hanya air tawar saja yang dihitung, maka akan menjadi lebih kecil lagi yaitu hanya 100 mil (160 km) diameternya.

Ilustrasi tersebut dibuat oleh Jack Masak di Woods Hole Oceanographic Institution tersebut dengan tidak merinci ukuran dan massa zat cair. Untuk diketahui bahwa jumlah air di Bumi mencapai 332.500.000 km kubik (1.386 kubik) (i mil kubik sama dengan 1.1 triliun galon). Namun dengan hipotesa bola, menjadi lebih dapat dipahami, apalagi ketika kita sudah biasa mengenal planet kita ini dengan dunia berair (watery world).

Anda bisa membaca lebih lanjut tentang hal ini di situs USGS berikut ini. (Adi Saputro/astronomi.us)

Wednesday, April 18, 2012

Gurun Lut, Tempat Paling Panas di Bumi

Gurun Lut di Iran, tempat paling panas di dunia. Image credit: upi.com
Awalnya, El Aziza di Libya diklaim menjadi tempat paling panas di dunia. Namun, peneliti Amerika Serikat (AS) menemukan tempat terpanas di Bumi. Ingin tahu?

El Aziza dinyatakan menjadi tempat terpanas pada 13 September 1922 dengan suhu tercatat mencapai 57,78C. Namun, menggunakan data dari US Geological Survey (USGS), tim dari University of Montana menemukan tempat terpanas di Bumi.

Gurun Lut di Iran tercatat memiliki suhu 70,72C pada 2005. Lalu, mengapa tempat ini tak dinyatakan sebagai tempat terpanas di dunia sejak awal? “Gurun panas Bumi secara iklim sangat keras dan sulit diakses untuk pengukuran rutin,” kata peneliti David Mildrexler.

Titik terpanas di Bumi biasanya tak diukur langsung menggunakan instrument berbasis daratan, lanjutnya seperti dikutip UPI. Diakuinya, Lut memiliki semua kondisi untuk suhu ekstrem, yakni kering, berbatu dan tanah berwarna gelap. (inilah.com, astronomi.us)

Monday, April 16, 2012

Ilmuwan Ungkap Teori Baru Material Pembentuk Bumi

Bumi. Image credit: NASA
Ian Campbell dan Hugh O'Neill dari Australia National University (ANU) mengemukakan bahwa Bumi terbentuk dari mekanisme yang berbeda dari yang dipercaya saat ini.

Hasil penelitian mereka menantang teori bahwa Bumi terbentuk dari material yang sama dengan Matahari. Dengan demikian, Bumi punya komposisi chondrit.

Chondrit adalah meteorit yang terbentuk di nebula yang mengelilingi Matahari 4,6 miliar tahun lalu. Meteorit ini berharga karena punya hubungan langsung dengan material awal Tata Surya.

"Selama puluhan tahun, diasumsikan bahwa Bumi memiliki komposisi yang sama dengan Matahari, selama elemen paling volatil seperti hidrogen dikecualikan," ungkap O'Neill.

Teori itu didasarkan pada pandangan bahwa semua benda di Tata Surya memiliki komposisi yang sama. Karena Matahari menyusun 99 Tata Surya, maka penyusun benda di Tata Surya pada dasarnya material Matahari.

Menurut Campbell dan O'Neill, Bumi terbentuk dari tumbukan benda serupa planet yang berukuran lebih besar. Benda angkasa tersebut sudah cukup masif dan memiliki lapisan luar.

Pandangan tersebut didukung oleh hasil penelitian Campbell selama 20 tahun di kolom batuan panas yang muncul dari lapisan dalam Bumi, disebut pluma mantel.

Berdasarkan penelitiannya, Campbell tak menemukan unsur seperti Uranium dan Thorium yang diduga memberi petunjuk bahwa Bumi tercipta dari material chondrit.

"Pluma mantel tidak melepaskan panas yang cukup yang mendukung adanya reservoir ini. Konsekuensinya, Bumi tidak memiliki komposisi yang sama dengan chondrit atau Matahari," ungkap Campbell.

Lapisan luar Bumi purba, kata Campbell seperti dikutip Universe Today, Jumat (30/3/2012), memiliki unsur yang menghasilkan panas yang berasal dari tumbukan dengan planet lain.

"Ini menghasilkan Bumi yang memiliki lebih sedikit unsur yang menghasilkan panas dibandingkan meteorit chondrit, yang menerangkan mengapa Bumi tak memiliki komposisi yang sama," jelas O'Neill.

Hasil penelitian Campbell dan O'Neill dipublikasikan di jurnal Nature, Kamis (29/3/2012). (kompas.com, astronomi.us)

Thursday, April 12, 2012

Pakar ITB: Gempa Aceh Disebabkan Gerak Oblique

Gempa Aceh. Image credit: dailymail.co.uk
Gempa baru saja terjadi di Aceh dengan magnitud 8,7 pada Rabu (11/4/2012) sore diperkirakan tak menimbulkan gelombang tsunami seperti pada musibah serupa pada 26 Desember 2004.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, pusat gempa ada di 2,31 Lintang Utara (LU) dan 92,67 Bujur Timur (BT) atau sekitar 146 barat daya Simeulue, Aceh, dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG mengeluarkan peringatan tsunami akibat gempa kali ini.

Seberapa besar tsunami yang mungkin terjadi? Pakar geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, mengatakan, "Update terbaru, focal mechanism-nya adalah ada sesar geser dan sesar naik, tetapi sebagian besar geser."

Pakar kegempaan Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, mengatakan bahwa focal mechanism yang terjadi pada gempa kali ini dalam ilmu Geologi disebut oblique. "Jadi sebenarnya ada gerakan miring. Dengan gerakan ini, ada bagian yang bergeser, tetapi ada juga yang naik. Akan tetapi, yang dominan adalah geser," tutur Irwan saat dihubungi Kompas.com, Rabu petang.

Eko mengatakan, dengan focal mechanism seperti ini, maka gelombang tsunami yang mungkin ditimbulkan kali ini tak akan sebesar tsunami tahun 2004. Menurut Eko, potensi tsunami besar akan terjadi bila terjadi sesar naik. Sesar yang bergeser tidak akan menimbulkan tsunami. Jika oblique, ada potensi tsunami, tetapi lebih kecil.

"Akan tetapi, sampai sekarang belum bisa diperkirakan dengan pasti berapa besar tsunami yang mungkin terjadi," kata Eko. Ia mengimbau kepada masyarakat Aceh untuk waspada tanpa perlu panik. Warga diharapkan pergi ke tempat yang lebih tinggi. (kompas.com, astronomi.us)

Daftar 10 Gempa Terbesar di Dunia

Gempa Bumi. Image credit: inilah.com
Gempa bumi memang bencana alam mengerikan. Sampai sekarang ilmuwan belum bisa memprediksi kapan sebuah gempa bisa terjadi.

Berikut adalah 10 peristiwa gempa terbesar di seluruh dunia yang Inilah.com rangkum dari berbagai sumber. Uniknya, Indonesia dan Alaska, merupakan sejumlah wilayah yang paling banyak masuk daftar tersebut. Simak:
1. Gempa 9,5 SR di Chile 22 Mei 1960. 1.655 orang terbunuh. Tsunami akibat gempa ini juga membunuh 68 orang di Hawaii, 138 orang di Jepang, dan 32 orang di Filipina.
2. Gempa 9,2 SR di Alaska pada 28 Maret 1964. 15 orang tewas akibat gempa, sedangkan 113 orang tewas akibat tsunami susulan.
3. Gempa 9,1 SR di Aceh pada 26 Desember 2004. Gempa itu mengakibatkan tsunami dahsyat yang menewaskan 230.000 orang di beberapa belahan dunia. Gempa paling mematikan yang pernah tercatat dalam sejarah.
4. Hawaii, 4 November 1952, gempa berkekuatan 9,0 SR. Namun untungnya tidak ada korban jiwa yang jatuh.
5. Gempa 8,8 SR di Ekuador pada 31 Januari 1906. Gempa tersebut menimbulkan tsunami yang membunuh 1.500 orang di Ekuador dan Kolombia.
6. Gempa lagi di Alaska pada 4 Februari 1965. Berkekuatan 8,7 SR. Tak dilaporkan adanya korban jiwa.
7. Gempa berkekuatan 8,6 SR di Indonesia pada 28 Maret 2005. Lebih dari 1.300 orang tewas.
8. Gempa 8,6 SR mengguncang Tibet pada 15 Agustus 1950. 780 orang tewas.
9. Alaska, 9 Maret 1957, terjadi gempa berkekuatan 8,6 SR. Tak ada korban tewas.
10. Indonesia, 12 September 2007, terjadi gempa dengan kekuatan 8,8 SR. Sedikitnya 25 orang tewas.

(inilah.com, astronomi.us)

Tuesday, March 20, 2012

Peneliti: Trampolin Alam di Lembang Merupakan Kolam Gambut Raksasa

Panorama dari puncak Gunung Batu, Lembang, Bandung, Jawa Barat, Senin (23/01/2012). Gunung Batu merupakan lava yang muncul kepermukaan akibat gesekan lateral Patahan Lembang. Gempa akibat pergeseran Patahan Lembang menjadi ancaman bencana di Bandung. Image credit: kompas.com
Lembah di Panyairan, di timur Jalan Cigugur Girang, Lembang, Jawa Barat, tertutup padang ilalang tinggi. Di selatan, tegak berdiri tebing batu memanjang setinggi tiga puluh meter.

Begitu peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Eko Yulianto, melangkah ke padang ilalang itu, langkahnya membal seperti berjalan di atas lapisan karet. Lebih lagi saat dia melompat-lompat, lapisan tanah lembek berair itu seperti memantul-mantulkannya.

”Inilah trampolin alam raksasa bentukan patahan Lembang,” ujar Eko. Menurut dia, trampolin alam di lembah itu sebetulnya kolam gambut raksasa. Ilalang tumbuh di atas tumpukan gambut yang terbentuk selama ribuan tahun.

Kolam gambut itu, menurut Eko, terbentuk karena gerakan patahan Lembang. Dalam istilah geologi, kolam itu disebut sagpond. Dinding batu yang membentengi sisi selatan lembah itu merupakan lava yang muncul karena rekahan kerak bumi atau yang biasa disebut patahan.

Image credit: kompas.com
Patahan Lembang memanjang 22 kilometer, berawal di kaki Gunung Manglayang di Bandung bagian timur dan menghilang sebelum kawasan perbukitan kapur Padalarang di Bandung Barat. Patahan itu tepat di tengah antara Gunung Tangkuban Perahu dan dataran Bandung sehingga membentuk dua blok, utara dan selatan.

Gerakan patahan Lembang mengakibatkan permukaan tanah di sebelah selatan turun, sedangkan permukaan tanah di utara meninggi. Akibatnya, aliran air dari tangkapan air di sisi selatan terbendung di kaki dinding patahan. Material yang terbawa air dan angin mengisi genangan air dan mengendap. Kolam itu lalu ditumbuhi tanaman, sebagian yang mati mengendap di dasar kolam membentuk lapisan gambut. Sebagian lain membentuk lapisan gambut yang mengambang di kolam.

Air kolam sangat asam akibat tingginya kadar besi. Air yang diambil di sebuah galian sagpond di perumahan mewah Graha Puspa, Cihideung, misalnya, keasamannya (pH) sekitar 4. Air yang layak minum memiliki pH 7 (netral). Hanya ikan tampele (Betta picta) sejenis ikan cupang yang tahan hidup di air itu dan ditemukan di sisa sagpond perumahan itu. ”Dulu di daerah sini banyak sagpond, sekarang terus berkurang karena diuruk untuk perumahan,” kata Eko.

Bagi Eko, sagpond sangat penting. Dari penggalian sagpond di Cihideung, Eko menemukan jejak rekam gempa berkekuatan 6,8 skala Richter dari patahan Lembang sekitar 2.000 tahun lalu yang sekaligus menjadi bukti pergerakan patahan itu mampu mengirim gempa.

Bendungan lava

Pembendungan air yang menciptakan kolam itu tak semata karena pergerakan patahan. Dinding lava yang mengisi rekahan kerak bumi itulah yang menghalangi aliran air.

Eko mengatakan, melalui retakan di jalur yang membujur timur-barat itu, magma mengalir ke atas mencapai permukaan bumi dan membentuk aliran lava. Bagian timur patahan hampir semua berupa dinding lava dan muncul di permukaan. Di patahan bagian barat, masih ada lava, tetapi hanya di titik-titik tertentu lava muncul ke permukaan, antara lain, Gunung Batu, Gunung Lemban, Cihideung, Panyandakan, dan Cisarua. Lava tetap ada di bawah permukaan tanah dan menghalangi air.

Air dari tangkapan di Tangkuban Perahu di utara terhalang alirannya ke arah selatan, termasuk dataran Bandung. Air permukaan ataupun air tanah tak bisa melewati perbukitan yang tercipta patahan karena ada dinding lava di patahan. ”Sungai-sungai yang mengalir di lereng selatan dan timur Gunung Tangkuban Perahu ke arah dataran Bandung terhalang dan berbelok tegak lurus ke timur atau barat baru kemudian mengalir ke selatan,” ujar Eko Yulianto. Air yang tidak bisa mengalir ke selatan itu muncul sebagai mata air di sekitar patahan dan kolam-kolam besar.

Robert M Delinom dalam Structural Geology Control on Groundwater flow: Lemban Fault Case Study, Westjawa membuat kesimpulan serupa. Hasil analisis datanya menunjukkan, patahan Lembang mengeblok aliran air tanah. Tidak ditemukan tanda-tanda tangkapan air di bagian utara Bandung.

Aliran air terbendung di sisi utara patahan dan keluar sebagai mata air serta kolam-kolam. ”Sebaliknya, banyak daerah di sisi selatan patahan kesulitan air karena air berhenti di sisi utaranya,” kata Eko.

Asal lava

Eko mengatakan, dinding patahan bagian timur tersusun oleh lava andesit berumur 500.000 tahun. Ini diketahui dari penanggalan Gunung Batu di jalur patahan yang diperkirakan produk dari letusan Gunung Sunda purba.

Adapun lava di patahan sebelah barat diperkirakan berusia jauh lebih muda. Eko mengatakan, berdasarkan penanggalan, lahar yang tersebar di patahan sebelah barat berusia sekitar 27.000 tahun sehingga diperkirakan sebagai produk dari Tangkuban Perahu. Usia lavanya sendiri belum diketahui. Tetapi, dia memperkirakan, lava lebih muda dari usia lahar. ”Benteng lava itu tampaknya muncul belakangan lalu memotong endapan lahar,” katanya.

Eko berpendapat, patahan Lembang bukan merupakan satu segmen patahan, melainkan dua segmen patahan, yakni di bagian timur dan barat. Gaya tekan dari arah berbeda akibat tidak lurusnya garis patahan membentuk bumbungan, yakni Gunung Batu sebagai pertemuan kedua segmen itu.

Masih ada perdebatan mengenai asal-usul lava. Beberapa peneliti mengatakan, lava-lava yang berada di patahan Lembang berasal dari Gunung Tangkuban Perahu di utara atau Gunung Sunda purba yang mengalir ke selatan dan terbendung rekahan kerak bumi. Namun, Eko punya pendapat berbeda. Dia meyakini sumber lava relatif lebih dekat.

”Lava di patahan Lembang berlubang-lubang akibat gelembung gas yang terperangkap saat magma bumi keluar. Lubang-lubang kemungkinan terjadi jika lava keluar dan membeku dengan cepat sehingga gas tak sempat terlepas. Jika lava mengalir jauh, itu berarti lava bergerak lambat dan gas sudah keluar semua,” ujarnya.

Berlandaskan karakter batuan, Eko menduga lava keluar dari rekahan-rekahan itu atau dari sumber lebih dekat ketimbang Tangkuban Perahu dan Gunung Sunda yang berjarak 5-8 kilometer dari patahan.

Ia menambahkan, isi perut bumi yang keluar dari rekahan sebetulnya fenomena umum. Kerap ditemui patahan yang memotong gunung sehingga seolah-olah patahan itu berhubungan langsung dengan dapur magma yang lalu mengisi rekahan.

Namun, lava-lava di patahan Lembang tidak menunjukkan gejala umum itu. Patahan itu memanjang ke arah barat-timur, sedangkan kawah Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Sunda jauh di utara sehingga tidak tersambung dengan patahan. ”Dari sisi ilmu pengetahuan, ini gejala yang menarik,” ujarnya.

Kehadiran sagpond itu, menurut Eko, menjadi penanda alam adanya patahan di kawasan itu. Daerah-daerah itu tak cocok untuk menjadi hunian karena rawan gempa akibat pergerakan patahan. Di tanah yang ada kolam-kolam gambut itu bisa terjadi penguatan gelombang gempa dari batuan dasar ke permukaan tanah yang lunak. Akibatnya, guncangan menjadi lebih besar dan merusak.(Hermas Efendi Prabowo/ Mukhamad Kurniawan). Sumber: kompas.com

Sunday, March 11, 2012

Ilmuwan Temukan Molekul Pendingin di Atmosfer Bumi

Atmosfer Bumi. Image credit: lipi.go.id
Sebuah molekul baru yang dapat membantu menghasilkan efek pendinginan, telah terdeteksi di atmosfer bumi. Namun, menurut sejumlah ilmuwan molekul itu masih harus dilihat terlebih dahulu apakah dapat menangani pemanasan global.

Molekul dapat mengkonversi polutan, seperti karbon nitrogen dan sulfurdioksida, menjadi senyawa yang dapat menyebabkan pembentukan awan. Menurut para peniliti molekul ini dapat membantu melindungi bumi dari efek sinar matahari.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan jurnal Science Kamis (12/1), peneliti dari Universitas Manchester dan Bristol, Inggris dan peneliti AS yang berbasis di Sandia National Laboratories mendeteksi adanya molekul baru yang disebut Biradicals Criegee. Pasalnya, molekul itu mampu menggunakan sumber cahaya 100 juta kali lebih kuat dari matahari.

"Kami menemukan biradicals bisa mengoksidasi sulfur dioksida, yang akhirnya berubah menjadi asam sulfat, yang memiliki efek pendinginan yang dikenal," kata Carl Percival, salah satu penulis penelitian di Universitas Manchester kepada Reuters.

Namun menurutnya, terlalu dini untuk memprediksi berapa banyak molekul yang harus dibentuk untuk membuat dampak besar pada suhu dunia. Selain itu, efek dari pembentukan awan juga masih belum bisa dimengerti.

Sejak seabad lalu, suhu rata-rata bumi telah naik 0,8 derajat Celcius. Para ilmuwan mengatakan peningkatan harus dibatasi hingga di bawah dua derajat Celcius pada abad ini. Hal ini untuk mencegah naiknya permukaan laut dan konsekuensi yang tidak diinginkan lainnya.

Namun hingga kini, arus utama cara membatasi pemanasan seperti energi yang terbarukan dan efisiensi energi, tidak memberikan hasil cukup cepat. (Reuters/Wtr3)

Saturday, March 10, 2012

NASA Temukan Badai Dahsyat Bawah Laut

Badai bawah laut ini terjadi di pesisir Afrika Selatan. Image credit: dailymail.co.uk

Badai besar ini memiliki diameter 150 km. Image credit: dailymail.co.uk
NASA baru saja mengungkap gambar dari satelitnya menampilkan ‘badai’ raksasa di bawah air. Putaran massa air selebar 150 km ini muncul di pesisir Afrika Selatan.

Badai raksasa ini terjadi pada 26 Desember 2011, dan satelit Terra milik NASA berhasil menemukannya. Kejadian ini tak perlu dikhawatirkan karena hanya ikan yang akan merasakan dampaknya, karena ikan-ikan ini akan terus berputar tanpa henti.

Badai laut yang lebih dikenal dengan Eddy ini biasa terjadi di bawah permukaan laut. Eddy yang berputar melawan arah jam ini muncul dari Agulhas Current yang mengalir di pesisir selatan Afrika dan di sekitar ujung Afrika Selatan.

Agulhas Eddy yang juga dikenal dengan ‘cincin arus’ ini merupakan badai terbesar di dunia yang membawa air asin hangat dari Samudera Hindia ke Atlantik Selatan. Demikian seperti dikutip DM. (inilah.com, astronomi.us)

Sunday, March 4, 2012

Zat Asam di Laut Meningkat Dalam 300 Tahun Terakhir


Penelitian menunjukkan bahwa samudera menghasilkan zat asam (acid) lebih cepat. Menurut sebuah makalah yang diterbitkan di jurnal Science, lautan di dunia mengalami laju pengasaman yang hebat dalam 300 juta tahun terakhir."Catatan Geologi mengungkapkan bahwa pengasaman saat ini berpotensi lebih tinggi setidaknya dalam waktu 300 juta tahun terakhir sejarah planet bumi ini" ujar Andy Ridgwell dari Bristol University.

Selama satu abad terakhir ini, ukuran keasaman (pH) telah menurun 1/10 unit menjadi 8,1, pH tersebut diukur pada skala logaritmik. Namun, diketahui pula bahwa tingkat perubahan keasaman pada masa Paleocene-Eocene Thermal Maximum (PETM) melonjak naik 10 kali lebih cepat pada 56 juta tahun yang lalu. Demikian dilansir Theregister, Jumat (2/3/2012).

"Fenomena ini menimbulkan kemungkinan bahwa kita sedang memasuki wilayah ekosistem lautan yang tidak kita ketahui" terangnya.

Selama PETM itu, dikabarkan terjadi kepunahan massal di ekosistem darat maupun laut. Penyebab peningkatan acid ini belum dipahami dengan baik, diduga serangkaian semburan metana besar dari sedimen laut aktivitas gunung merapi merupakan faktor utama yang meningkatkan pengasaman (acid) ini.

Selain itu, atmosfer zat karbondioksida (CO2) yang kini intensitasnya meningkat sekira 30 persen dibandingkan satu abad yang lalu menjadi pemicu tingkat keasaman laut. Dikabarkan bahwa laut menyerap CO2 dari udara yang bereaksi dengan air laut untuk membetuk asam karbonat.

"Jika emisi karbon dari industri terus meningkat cepat, kita mungkin akan kehilangan organisme terumbu karang, tiram dan ikan salmon" ujar Honisch dari Columia University.

Peningkatan asam laut ini tidak menimbulkan dampak buruk, dikabarkan beberapa organisme pada kenyataannya mendapatkan keuntungan dari lingkungan yang lebih asam, yaitu akan ada spesies baru yang berevolusi dan akan menggantikan organisme lain yang telah mati. (okezone.com, astronomi.us)

Monday, August 22, 2011

Mengurangi Emisi Bisa Menyelamatkan Bumi Dari Alien

Reduksi emisi gas rumah kaca bisa memberi dampak di luar dugaan. Selain menyelamatkan manusia dan makhluk hidup lain dari dampak jangka panjang berupa bencana dan kepunahan, pengurangan emisi juga bisa menghindarkan populasi Bumi dari serangan alien.

Bagaimana bisa? Ilmuwan NASA dan Pennsylvania State University menuturkan, emisi gas rumah kaca menyebabkan perubahan atmosfer Bumi yang bisa dideteksi dari luar angkasa. Alien bisa mengobservasi dan berpikir, ada peradaban yang telah tumbuh di luar batas di Bumi. Hasil observasi akan kondisi atmosfer Bumi itu bisa menuntun alien untuk datang ke Bumi.

Jika kedatangan itu bisa dipastikan tak merugikan, pasti tak masalah. Tapi bagaimana bila makhluk cerdas itu bermaksud menyerang, jijik pada manusia karena telah menghancurkan Bumi?

Sejauh ini, ilmuwan dari dua lembaga tersebut baru menyusun beberapa kemungkinan jika alien datang ke Bumi. Skenario paling bagus, si alien tak melancarkan serangan. Manusia justru bisa belajar dari alien tentang cara mengatasi kelaparan dan melawan penyakit. "Dalam skenario ini, manusia tidak hanya memperoleh kemenangan moral karena mengalahkan alien, tapi punya kesempatan untuk mendayagunakan kecerdasan yang dimiliki makhluk ekstra terestrial itu," tulis ilmuwan dalam papernya, seperti dikutip Daily Mail, Jumat (19/8/2011).

Skenario kedua adalah skenario netral. Dalam hal ini, manusia tak bisa merasakan perbedaan karena adanya alien sebab hambatan komunikasi. Ada kemungkinan alien menjadi terlalu birokratis dan akhirnya malah menggangu manusia.

Sementara, skenario terburuk, alien menyerang manusia. Manusia diperbudak oleh alien sementara mereka meningkatkan kapasitas untuk ekspansi. Dampak akhirnya, kehancuran secara global dan bisa menghapus seluruh populasi manusia.

Hingga kini, belum ada kepastian, skenario mana yang akan terjadi. Tak heran, sebab kepastian tentang adanya makhluk cerdas di luar angkasa juga belum ada hingga detik ini. Namun, ilmuwan mengungkapkan, sebaiknya manusia melakukan langkah preventif.

Dalam laporannya, ilmuwan menulis, "Manusia kini memasuki periode dimana ekspansi peradaban bisa terdeteksi alien, sebab ekspansi kita mengubah kompisisi atmosfer lewat emisi gas rumah kaca. Skenario ini memacu kita membatasi pertumbuhan dan mengurangi dampak ekosistem global."

Lebih lanjut, ilmuwan memberikan saran, "Akan menjadi penting bagi kita untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebab perubahan atmosfer bisa terdeteksi dari planet lain."

Intinya, sebisa mungkin selamatkan Bumi dari serangan alien dengan mengurangi emisi. Terlihat seperti fiksi ilmiah? Mungkin saja. Tapi, reduksi emisi gas rumah kaca memang harus dikurangi. Tim ilmuwan yang mengembangkan skenario invasi alien ini dipimpin oleh Shawn Domagal-Goldman dari NASA. Laporannya juga dipublikasikan di NASA.

sumber


Loading
Wallpaper astronomi gratis. Klik gambar untuk mendownload.

Koleksi wallpaper astronomi.us bisa dilihat di sini.